Kali
ini, saya—Nina—akan menceritakan tentang perjalanan saya menuju desa Kuripan
untuk mengunjungi seseorang yang memiliki naskah kuno Sasak “Puspekarme”,
yang merupakan naskah asli suku Sasak yang ditulis diatas daun Lontar. Saya dan
tujuh teman saya yang lainnya memulai perjalanan kami dari Mataram menuju desa
Kuripan di Kabupaten Lombok Barat setelah mata kuliah kami pada hari Kamis, 14
November 2019 berakhir, yakni sekitar pukul 14.00 WITA. Namun ditengah perjalanan
kami terdapat beberapa kendala seperti tersesat dan hampir melewati tempat
tujuan utama kami. Terlepas dari kendala itu, pada akhirnya kami sampai kerumah
narasumber kami dan disambut dengan hangat dan ramah oleh beliau.
Beliau
adalah Mamiq Upiq, sang pemilik naskah Kuno Sasak “Puspekarme” yang didapatnya
secara turun temurun dari nenek moyangnya dan kini telah berumur 200 tahun. Berbeda
dengan teman-teman beliau yang lebih dulu memiliki pengalaman di bidang ini,
dimana teman-teman beliau mendalami “Aksame Pembayen” atau penerjemahan
naskah kuno, sedangkan Mamiq Upiq mempelajari dan mendalami penulisan dan
penerjemahannya juga dalam dua tahun terakhir. Beliau menyampaikan alasannya
menekuni dua bidang itu dengan kalimat
yang menarik yaitu “Jika yang kita pelajari salah satu dari dua hal itu,
maka kita hanya mempelajari setengahnya saja dan untuk mempelajarinya kita
harus memiliki ketekunan serta niat yang kuat”.
Mamiq
Upiq menjelaskan dengan sabar kepada kami mengenai naskah Kuno tersebut, dari
filosofi “Puspekarme” itu sendiri, dimana “Puspe” berarti bunga atau
kebaikan dan “Karme” berarti Perbuatan yang baik. Sehingga arti dari
Puspekerme itu sendiri adalah Perbuatan yang baik itu jelas akan mendapatkan
perbuatan yang baik pula atau “Jika kamu melakukan kebaikan pada orang
lain, maka kamu juga akan diperlakukan dengan baik pula oleh orang lain”. Sampai
pada isi yang terdapat dalam naskah kuno tersebut, dimana naskah kuno tersebut
berisi tentang cerita-cerita dongeng legenda mengenai kerajaan-kerajaan zaman
dulu ditanah Lombok.
Selain
dijelaskan mengenai naskah Kuno, kami juga diberi kesempatan untuk melakukan “Penjeputan”
atau “Nyeput”, yang merupakan salah satu tradisi suku Sasak dimana setiap
individu diberi titah untuk memilih salah satu lembaran naskah kuno dari daun
Lontar tersebut. Kemudian lembaran yang telah kami pilih akan dibacakan dan
diterjemahkan. Hasil terjemahan dari Penjeputan ini merupakan hasil perkiraan mengenai apa yang
akan terjadi di masa depan atau perjalanan hidup kita dimasa depan. Namun,
perlu diketahui bahwa terdapat dua syarat utama dalam melakukan penjeputan ini
yaitu :
-
Niat yang
baik, dan
-
Menutup
mata
Setelah
melakukan syarat tersebut, barulah kita memilih lembaran lontar yang telah disusun
rapi. Ketika tiba giliran saya melakukan penjeputan, kesimpulannya adalah
“Apapun yang dituju, semoga dapat tercapai tanpa halangan. Baik dari segi
karir maupun segi asmara”. Namun, terlepas dari hasil yang saya peroleh
atau siapapun yang melakukan tradisi Penjeputan ini mau percaya atau tidak, itu
kembali pada diri masing-masing.
Baiklah,
mungkin hanya itu yang dapat saya tulis. Semoga bermanfaat bagi para pembaca. Satu
komentar dari kalian, sangat berharga bagi perkembangan saya dan blog ini
kedepannya. Jadi, Jangan lupa tinggalkan jejak dikolom komentar ya!!! 😊. Terimakasih telah bersedia meluangkan
waktunya untuk membaca tulisan saya.
Wassalamualaikum
Warrahmatullahi Wabarakatuh..

